Archive for December, 2005

Seputar KL

Thursday, December 29th, 2005

100_0013125_2516100_0019Beberapa minggu yang lalu saya baru saja mendapat kesempatan kedua kalinya untuk training di KL. Banyak sekali kesan-kesan yang menakjubkan selama saya berada disana, terutama pada fakta bahwa Jakarta sangat jauh sekali tertinggal.

Kesan pertama saya begitu menginjakkan kaki di bandara Kuala Lumpur Airport (KLIA) adalah pada kemegahan bandara yang baru berusia 3 tahun itu. Bangunannya berkesan hi-tech dengan langit2 tinggi dan bak bertaburkan bintang. Didalamnya terdapat rumah kaca yang berisi ‘hutan’, ya hutan dengan pohon2 besarnya, tak cuma sekedar taman saja. Kemudian yang menakjubkan adalah untuk mencapai balai imigrasi yang berupa bangunan terpisah, dihubungkan dengan menaiki ‘aero train’, semacam monorel. Setelah urusan selesai di bandara, kita pun bisa mencapai city center dengan menaiki kereta KLIA express menuju stasiun KL Sentral dan dilanjutkan dengan mrt ataupun monorel.  KL Sentral sendiri merupakan pusat pertemuan dari semua jalur kereta api, baik intra KL maupun ke kota lain, seperti halnya "Hauptbahnhoff"  yang ada di kota2 besar di Jerman. Kita pun dapat mulai ‘check in’ disini apabila hendak mengadakan perjalanan dengan pesawat terbang. Sangat nyaman dan tanpa hilir mudik calo yang menyebalkan

Begitu sampai di KL, kesan pertama saya adalah KL merupakan kota yang kurang lebih sama dengan yang ada di Eropa. Sangat rapih, bersih, tanpa polusi, aman dan sangat sangat hijau. Trotoar yang sangat lebar dan cantik berwarna warni sangat nyaman untuk berjalan kaki, maupun hanya untuk memandangnya saja. Juga terdapat penunjuk arah untuk orang buta sehingga mereka tak takut untuk berjalan sendirian di tengah kota. Yang mengherankan, di tengah2 trotoar yang sangat lebar itu tak kelihatan satu orang pun pedagang kaki lima berjualan. Mungkin dikarenakan penduduk KL yang hanya 3 juta orang, bandingkan dengan Jakarta yang mencapai 12 juta. Perencanaan tata kota yang sangat bagus juga merupakan bagian dari keindahan kota ini. Di city center tak terdapat satu pun rumah tinggal, semuanya merupan bangunan perkantoran, hotel, ruko, dll. Sedangkan perumahan yang kebanyakan merupakan apartemen ada di luar kota. Gedung-gedung tua dirawat sedemikian sehingga menjadi aset untuk pariwisata. Hutan yang sangat luas sebagai serapan air juga berada di tengah kota, diantara bangunan2 bertingkat.

Karena Desember adalah musim liburan sekolah, maka di tempat-tempat tertentu sangat banyak terlihat turis-turis asing yang berseliweran, juga bus2 pariwisata yang mengangkut mereka. Para turis banyak berada di daerah sekitar Bukit Bintang yang terkenal sebagai Champ Ellysee-nya KL, dimana terdapat banyak cafe dan mall. Rata-rata mereka menginap di daerah tersebut untuk kemudian mengunjungi daerah2 wisata seperti China town, Menara Petronas, Pasar Seni,dll. Jujur saja, di Jakarta lebih banyak tempat dan handcraft yang jauh lebih bagus. Saya pernah mencoba mendatangi Pusat Kerajinan Malaysia, tetapi betapa kecewanya saya sesampainya disana, koleksinya tak lebih dari sepersepuluh koleksi handcraft yang ada di Pasaraya.  Namun karena pemerintah Malaysia sangat serius menggarap dan mengemas pariwisata-nya, alhasil turis pun banyak berdatangan, selain faktor keamanan tentunya.

Semua urusan di Malaysia sudah berbasis IT, sehingga kita hanya perlu mendatangi website dan semuanya terselesaikan dengan gampang. Seperti pemesanan tiket kereta api,  kapal terbang, hotel, dll. Bahkan salah seorang teman saya bercerita bahwa di puncak gunung kinabalu pun semuanya sudah berbasis IT. Semua tempat sudah tehubung dengan jalur monorel, subway maupun mrt yang dapat dengan mudah dilihat di peta. Di setiap satsiun monorel terpasang TV-TV layar datar dan sistem pembelian kupon yang menggunakan mesin otomatis. Semuanya mengesankan KL adalah kota yang hi-tech. Meski demikian, penduduk KL terutama Melayu terkesan sangat kampungan dengan gaya berpakaiannya yang baju kurung dengan motif bunga2 atas bawah, tanpa manik2, bordir ataupun payet. Bahkan kadang mereka pergi ke kantor pun dengan dandanan seperti itu. Penduduk KL sendiri terdiri dari 3 rumpun, yakni Melayu, Chinese dan India. Tak seperti di Indonesia yang sudah membaur, ketiganya seperti berjalan sendiri2 dan masih sangat memegang teguh adat istiadat leluhur mereka.

125_2527100_0028100_0018