Surprisingly, finnaly aku pake jilbab. Kaget huh?? Iya, aku sendiri juga kaget akhirnya bisa juga seperti sekarang. Sebenarnya siih, keinginan itu sudah lama, tapi masih sebatas angan2 dan kayaknya sih masih jauh banget. Perasaan kok belum pantas, mengingat ilmu agamaku yang masih dangkal dan hmmm tidak ada usaha juga untuk memperdalam, maklum pemalas sejati. Baru mikir untuk diseriusin, setelah bergabung dengan milis Dunia Ibu. Pada satu bahasan, ada yang menyinggung masalah memakai jilbab. Mereka berbagi cerita tentang apa sebetulnya yang membuat mereka mantap memutuskan memakai jilbab. Dan menurut mereka, kehidupan mereka sama sekali tidak berubah. Juga tidak harus dimulai ketika diri sudah menjadi alim dsb. Justru dengan memakai jilbab, pelan2 mudah2an ibadahnya jadi bertambah.
Ketika berulang tahun ke-30 dan sekaligus 5th anniversary my marriage, Oktober tahun lalu, aku berusaha merenung. Hmmm, sebenarnya semua keinginanku sudah tercapai, suami yang amat sangat baik, 2 anak yang membahagiakan, materi, dan adik2 yang sudah bisa mandiri semua. Mengingat bagaimana beratnya perjuanganku menghidupi dan menyekolahkan mereka. Akhirnya satu persatu dari mereka sudah bekerja, alhamdulillah sekali berkat Engaku ya Allah.
Kembali ke masalah jilbab, renungan di ulang tahunku yang kebetulan juga bulan puasa, menimbulkan niat bersyukur dengan cara memakai jilbab di Idul Fitri. Hmmm, tapi berbagai keraguan yang muncul, terutama ketidakberanian menghadapi kekagetan orang2, membuatku mengurungkan niat.
Ah, mungkin pada saat adikku merit, baru aku berani, atau paling tidak lebaran tahun depan, demikian kataku dalam hati.
Sesuatu yang tak disangka2 terjadi, tiba2 sahabatku yang paling dekat memberitahukan bahwa dia sudah mengenakan jilbab. Wow, how can it be happened at the sam time, I can’t believe! Kejadian itu sempat menguatkan hatiku. Tapi, entahlah, mungkin iman terkadang naik dan terkadang turun. Beberapa saat setelah itu, justru keinginanku malah memudar sama sekali.
Kejadian meninggalnya salah seorang tetanggaku yang masih amat muda dan baru berencana menikah dengan pacarnya, membuatku kembali terkaget. Ya Allah, jikalau aku dipanggil besok, apakah aku sudah siap?? Sedikit ada rasa ketakutan yang mendera hatiku, tapi perasaan itu buru2 aku tepis.
Seraya, mulai memantapkan hatiku kembali, entah sampai kapan perasaan ini terombang ambing.
Ternyata, tak lama setelah tetanggaku itu meninggal, yang notabene adalah sahabat karibnya adikku, anis, adikku itu juga memutuskan memakai jilbab pada hari pertama ia bekerja di kantor. Aku jadi tambah berpikir, adikku saja yang masih sangat muda, masih 21 tahun, sudah berani mengambil keputusan penting. Aku jadi tertantang, masa aku yang sudah tua begini masih mikir2, hmmm.
Sempat aku berkonsultasi pada sahabatku, Fira, dia menyarankan aku mencoba saja pada saat pesta perkawinannya adikku yg laki. Kebetulan semua calon kakak iparnya sudah memakai jilbab, tentu saja ada perasaan malu jika aku tidak memakai jilbab di pesta itu.
Ternyata Allah memang memudahkan jalanku. Kebetulan, 3 hari sebelumnya, saudaranya suamiku ada yang meninggal dan pagi2 aku sebelum berangkat kerja aku harus pergi melayatnya.
Tentu saja aku harus mengenakan jilbab pada waktu melayat, pergi bersama suamiku. Hmm, tiba2 saja, aku merasa nyaman dan mantap, terbersit keinginan untuk mulai mengenakan pada hari itu juga. Suamiku tentu saja kaget, tapi juga mendukung. Mulailah aku berjalan memasuki kantor dengan hati deg2 an, gimana yah reaksi orang2 di kantor. Benar saja, rasanya semua orang pay attention to me.
Hampir aja aku balik badan dan melarikan diri, tapi…, kalo gak sekarang, kapan lagi. Belum tentu aku punya keberanian lagi sebesar ini. Bismillahirrahman nirrahim.
Alhamdulillah, tak terasa, sudah 2 minggu berlalu, dan aku tak merasa menyesal. Hanya saja, belum full 100%. Di rumah, atau ke warung dekat rumah, aku masih bebas mengenakan daster, pakaian kebangsaanku. Yah, pelan2 lah, niat yang baik akan membuahkan hasil yang baik. Yang membuatku terharu, Lilik, teman baikku di Indosat, memberiku hadiah 2 buah jilbab sutra. Hiks, ternyata temanku itu sangat perhatian padaku. Lik, kalo kamu baca blogsku ini, sekali lagi terima kasih ya. I won’t forget it, terutama nasihat2 mu pada waktu itu.
Alhamdulillah, ya Allah, telah Kau tunjukkan jalanMu.